Santet dan Pengobatan Santet

Ilustrasi Praktisi

Tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia mendengar kata santet. Turun temurun diceritakan dan menjadi mitos atau dongeng bagi mereka yang tidak percaya. Namun adalah hal yang menarik untuk dibahas, fenomena santet bukan hal yang baru lagi kita dengar. Dari mengirim benda ke seseorang, mengirim api yang membuat orang mati gosong, ada juga di beberapa daerah yang mengirim sosok untuk menghisap darah di sekujur tubuh target, dan menjadikan target mati biru (keabisan darah). Ada juga yang disebut guna-guna, yakni menyiksa target sampai ajalnya tiba, ada yang dikirimi penyakit lumpuh, ada juga yang penyakit fisik gatal-gatal seperti cacar, dan banyak sekali jenis penyakit yang umum dikirim para pelaku santet, yang tak kunjung sembuh, bahkan meski bolak balik ke dokter tahun demi tahun.

Di beberapa kasus yang pernah saya handle juga, ada seseorang yang menderita penyakit medis, sudah tahunan berobat dan dirawat, sudah mencoba berbagai metode pengobatan medis, namun belum juga menemui sedikitpun titik terang aroma kesembuhan. Ketika saya hadir dan memberi hasil analisa, saya melihat bahwa ternyata ada penyakit medis yang bisa ditunggangi energi negatif. Disini saya langsung mengatakan apa adanya, kalau penyakit medis nya ibarat batang ubi yang bisa saja ditebang atau dibersihkan, namun keberadaan akar yang sudah menjalar lebar, yakni energi negatif kiriman yang menahan kesembuhan nya selama ini, tidak bisa dicabut dengan metode medis umum, disinilah peran praktisi sangat dibutuhkan.

Berbagai kasus pengobatan yang saya tangani, hasilnya sangat beragam. Kasus pengobatan adalah kasus yang paling banyak saya tangani sejak dulu. Mungkin puluhan atau ratusan orang berbeda sudah saya tangani tiap tahun nya semenjak 3 tahun yang lalu. Dari total 100% yang saya tangani, sekitar 60% nya adalah kasus nonmedis. Dari total keseluruhan yang nonmedis, hanya sekitar 40% sembuh dalam sekali terapi, 30% sembuh dengan terapi berkelanjutan, namun ada juga 25% yang tidak ingin untuk sembuh (menolak terapi lanjutan), dan 5% sisanya saya anggap sebagai kegagalan, termasuk mereka yang meninggal ketika diterapi atau beberapa waktu setelah diterapi.

Ada banyak versi yang saya pahami dalam dunia santet ini. Termasuk teori sains metafsika nya, dimana santet bisa dianalisa logis dan dibuatkan rumus fisika nya. Adapun berbagai teori itu, tetap saja mereka yang sakit dan sekarat tidak peduli apa pun teori penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya itu. Yang saya tau dari dulu adalah mereka datang untuk sembuh, bukan untuk tau apalagi mendengar ceramah metafisika yang tidak umum diketahui publik. Saya atau siapapun kalian yang praktisi, tidak pernah salah ketika menganalisa penyakit nonmedis, mau bilang itu santet, mau bilang itu penyakit dari pikiran, mau itu disebut apapun juga, asal saya atau siapapun kalian yang menganalisa berani bertanggung jawab untuk menyembuhkan, saya membenarkan apapun analisa kalian.

~Salam Tak Terhingga _/\_

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *